Infertilitas

Prof. DR. Dr. H. Susilo Wibowo, M.S.Med., Sp.And 
Andro-Derma H.C.,depan LP Kedungpane,Semarang,
SMS only: 087775731313

 

Dalam problem infertilitas, sering individu pasangan harus berkonsultasi dengan spesialis ilmu yang berbeda untuk pengobatannya. Pada wanita menemui Gynekologi sudah lazim dilakukan. Tetapi pihak pria sering sulit menentukan jika dia juga merupakan bagian dari masalah infertilitas. Mereka tidak segera dapat memutuskan kemana harus ber-konsultasi. Sepertiganya konsul dokter keluarga, seperempatnya ke Ginelologi tempat istrinya konsul, dan sisanya mungkin ke Urologi, Andrology, atau Penyakit Dalam/Endokrinologi.(1)

Pada masalah Infertilitas ini, WHO berpendapat bahwa pasangan merupakan “satu kesatuan” dalam definisi “Kesehatan Reproduksi”. Dibawah adalah diagram cara pasangan infertil mencari pengobatan untuk mendapat keturunan (Gb1.)

infertil

 

Diberbagai negara, termasuk Indonesia, ada kecenderungan bahwa pasangan Infertil ingin mencari pengobatan hanya pada satu (1) dokter yang melayani secara keseluruhan. Kecenderungan ini tidak perlu dicari-cari sebabnya dan dipermasalahkan, apakah pasangan itu mau ke Ginekologi, ke Andrologi atau ke dokter keluarga. Trend ini alamiah dan biasa terjadi selama pengobatan.(2) Ada nasehat bijak yang setuju dengan trend sosial ini, bunyinya: ”Satu (1) dokter dengan pengetahuan dan ketrampilan terbaik, lebih bagus kerjanya untuk seribu orang pasien daripada dilayani oleh sepuluh (10) spesialist”.(3)

Pemeriksaan suami dan istri tidaklah harus bersamaam, kecuali jika terjadi infeksi traktus Genitalis yang selalu saling menularkan. Male Accessory Gland Infection (MAGI), yang tidak menimbulkan keluhan, ternyata frekuensinya sangat tinggi, berkisar antara 41.773.6 % pada pasien Infertil di Semarang dan Surabaya.(4) Jika terburu-buru dilakukan Intra Uterine Insemination (IUI) maka success rate akan rendah dan justru akan menimbulkan masalah yang lebih rumit. Tanpa pengobatan MAGI terlebih dahulu, pencucian tidak pernah hasilkan sperma yang 100% steril dari bakteri/virus (lihat Gb 2.) IUI pada kondisi ini akan menyebabkan deposisi bakteri/virus ke dalam rahim, pada gilirannya menyebabkan infeksi  endometrium (endometritis). Bakteri/virus akan mengaktivasi macrophage untuk aktif mem-phagositosis bakteri/virus dan spermatozoa. Kemudian terjadi respon inflamasi, aktivasi B-lymphocytes, terbentuk antibody terhadap bakteri/virus dan timbul Anti-Sperm Antibody (ASA), dalam serviks maupun serum darah.(5;6) Pada penelitian, ASA tinggi ditemukan pada wanita infertil yang pernah/sedang infeksi virus Clamidia trachomatis.(7)

 

Dalam Tim Kedokteran Reproduksi sudah seharusnya Andrologist dan Gynecologist bekerja secara simultan dan kompak, terutama dalam Teknik Reproduksi berbantu (TRB). Guidelines yang dibuat di Jerman tn 2006,(8) menyebut minimal satu (1) dari tiga (3) dokter yang dibutuhkan dalam TRB, harus Andrologist. Artinya seorang Andrologist harus merupakan bagian setiap Senter Kedokteran Reproduksi. Tim tidak boleh berganti-ganti atau ditambah anggota secara sembarangan, karena akan mengacaukan kekompakan dan sering mempengaruhi “suasana” kerja yang menentukan keberhasilan Tim.(3)

Ref: 1. Bruckert E.1991.Androl.23:245–50)

  1. Nieschlag E. 2010. In: Andrology. Nieschlag E, Behre HM, Nieschlag S (Eds). 3rd eSpringer-Verlag,BerlinHeidelberg.
  2. Mayo WJ (co-founded the Mayo Clinic). In:Bill Swainson. Encarta Book of Quotations.2000. St Martin’s Press. p:625
  3. Wibowo S. 1988. Desertation. Airlangga University
  4. Agrawal T et al. 2009. Clin Microbiol Infect, 15:50-9
  5. de Jesús De Haro-Cruz M, Deleón-Rodriguez I, Escobedo-Guerra MR. 2011. Enferm Infect Microbiol Clin. 29 (2):102-8
  6. Siam EM, Hefzy EM. 2012. Middle East Fert Soc J. 17(2):93-100
  7. Bundesärztekammer.2006.Richtlinie zur Durchführung der assistierten Reproduktion. bundesaerztekammer.de